Langsung ke konten utama

Postingan

Postingan terbaru

B A N D U S A

Untukmu Bandusa Rambut gondrongmu sudah pendek Begitupun warnanya, pun sudah hitam  Gincumu sudah tak nampak, entah kemana  Begitupun eye shadow dan blas on Bebatuan emas juga tak bergelantungan di tubuhmu Kamu juga sudah mulai bisa berbaris, meski tidak rapi Sepatu pun sudah tak lagi tersimpan bersama ternakmu Lingkaran perjudianmu juga sudah tak lagi menyapa Kau ganti dengan permainan tradisional penuh tawa Meski, seragammu tak layak, tetapi semangat kakimu meninggalkan waktu tanam dan ngarit perlu diacungi jempol Teruslah datang setiap hari ke sekolah, Nak! Penuhi tawamu, penuhi bahasamu Bukan materi bertema-tema yang ingin kujejalkan, tetapi mari bersama belajar beretika yang kurang kau dapatkan

Tanpa Gula

Apa yang engkau cari dari panas ini Tanpa hitam pekat yang menyatuh Tangan merangkai bentuk imaji Lama menanti tak ada arti lagi, karena engkau sudah satu Dalam hitam tanpa manis Terus kuaduk lalu kedalami Rasa pahit lalu muncul manis Hidup lalu mati

Jangan Tinggalkan Surabaya Utara

Berkeliling menyapa jalan demi jalan kota Surabaya. Berbisik dalam hati kekaguman akan buah pikir ibu Risma. Berebut tempat dedaunan untuk menjadi payung para pengguna jalan. Berlalu lalang di Surabaya tak lagi membosankan. Aspal panas menguap memeluk tubuhku hingga batik yang kukenakan basah oleh luberan keringat. Pucuk-pucuk rambut hitam tak sempurna ini, tak jarang menetaskan air kelelahan. Bangunan kokoh karya para menir Belanda menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Surabaya. Tembok kokoh, lingkar jendela khas dan tudung gedung merupakan identitas tersendiri, meski sekarang sudah terhiasi logo-logo besar perusahan swasta maupun kantor pemerintahan. Kejayaan pembangunan Surabaya saat ini menjadi icon bagi Jawa Timur, "Ibu kota propinsiku benar-benar membanggakan". Akan tetapi, gumamku itu terbantahkan ketika aku menyusuri wilayah Surabaya Utara. Sunan Ampel dan Tanjung Perak menjadi ciri abadi daerah itu. Kanan kiri penuh tumpukan sampah botol ke...

Sajak.Sejak.2009.Lalu

Sejak tahun itu aku mengenalnya, sejak itu pula setiap aku hadir ke kota di mana aku kali pertama bertemu dengannya, aku selalu mengikatkan satu tujuan, diantara beberapa tujuanku hadir ke kota itu, yaitu bertemu dengannya. Tetapi, setiap kali aku hadir dia selalu pergi, selalu seperti itu :) Hingga entah berapa kali kehadiranku di kota itu. Bertahun-tahun hanya suara dan rangkaian kata yang menyambung pertemuan itu. Bahkan, masa lalu yang mana, aku pernah merasakan dia selalu hadir di sampingku, sangat dekat meski jarakku dengannya sangat jauh. Tujuan yang terikat dari dulu ternyata masih terikat hingga saat ini, entah..... Sampai masa depan yang mana tujuan itu bisa lepas.

Seribu Nada

Aku sangat paham dengan apa yang kau rasakan, tapi aku benar tidak tahu ternyata kau melihat pemandangan tak mengenakan itu. Maaf. Aku sekuatnya ingin tidak memberimu pemandangan yang seperti itu. Karena aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu yang telah kau dapatkan darinya. Dari itu, tempo hari aku berkata, "sudah nggak waktunya aku berkata." Ya, sudah tidak waktuya memang, meski banyak sekali yang aku ingin katakan agar kau kembali ingat dengan kalimat-kalimat yang pernah kau hamburkan di pikiranku. "Kenapa hampir setiap hari ditidurku kau hadir?" hanya tanda tanya itu yang membayangiku, sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Hanya Tuhan dan Aku yang tahu, mungkin juga Kau. Biarlah aku berbicara dan melihat senyummu merekah dalam kehidupan tak nyata itu, karena aku tidak mungkin melakukannya di kehidupan nyata ini.