Langsung ke konten utama

Seribu Nada

Aku sangat paham dengan apa yang kau rasakan, tapi aku benar tidak tahu ternyata kau melihat pemandangan tak mengenakan itu. Maaf. Aku sekuatnya ingin tidak memberimu pemandangan yang seperti itu. Karena aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu yang telah kau dapatkan darinya. Dari itu, tempo hari aku berkata, "sudah nggak waktunya aku berkata." Ya, sudah tidak waktuya memang, meski banyak sekali yang aku ingin katakan agar kau kembali ingat dengan kalimat-kalimat yang pernah kau hamburkan di pikiranku.

"Kenapa hampir setiap hari ditidurku kau hadir?" hanya tanda tanya itu yang membayangiku, sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Hanya Tuhan dan Aku yang tahu, mungkin juga Kau.
Biarlah aku berbicara dan melihat senyummu merekah dalam kehidupan tak nyata itu, karena aku tidak mungkin melakukannya di kehidupan nyata ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anakku (Rita Hala Wulang)

Senin, 3 September 2012 Senyumanmu Kami Ubah dengan Tangisan Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Upacara bendera rutinpun berjalan lancar dan tertib. Apalagi pemandangan yang sangat harmonis ditunjukkan oleh para guru kami. Setelah lama saya tidak bisa menjumpai para guru lengkap untuk mengikuti upacara bendera hari senin. Mereka membuat saya semakin bersemangat untuk belajar, bersemangat untuk melangkah menuju ke sekolah tercinta. Saya merasakan pagi itu sedikit berbeda dengan pagi sebelumnya. Semangat mentari telah memberikan semangat baru bagi kami semua. Di jam pertama setelah selesainya upacara bendera, kami harus bersiap untuk menerima pelajaran Matematika dari Bu Ellys. Tapi sebelumnya Bu Lidia selaku wali kelas kami harus masuk kelas terlebih dahulu untuk mengecek kehadiran kami. Setelah itu jam sudah menunjukkan pukul 08.10 Wita, waktu bagi Bu Ellys untuk segera masuk ke kelas kami. Setelah melihat Bu Lidia selesai melaksanakan tugasnya, dengan cepat Bu El...

Kalian

Hanya udara segarmu yang akan mengantarku, Hanya terik mataharimu yang akan membekas, Hanya bait-bait puisimu yang mengindahkanku, Dan…. Hanya senyumanmu itu yang membalut kenanganku.

Pengabdian Wanita Bima bag. II

Marjan Tetap Ada untuk Kita Memahami alur kehidupan merupakan suatu hal yang terkadang menyulitkan bagi semua orang. Lika-liku yang harus ditempuh menuntut kita untuk selalu siap bertarung menghadapi tantangan. Kenyataan yang mampu memilukan raga harus kita terima dengan lapang dada. Drama kehidupan terkadang membuat kobaran api semangat semakin membara, terkadang juga membuat cucuran air mata membasahi telaga kasih. Ketabahan dan keikhlasan harus selalu ditumbuhkan menghadapi drama seperti itu. Marjan, ia mampu menunjukkan bahwa dirinya memiliki semua itu. Salah satu guru muda SMP Negeri 1 Rindi yang nasibnya terombang-ambing oleh PNPM, sempat mempunyai keinginan untuk keluar dari SMP Negeri 1 Rindi dan mencoba menaruhkan nasib ke Sumba Tengah atau Sumba Barat sebelum ia kembali ke kampung halaman Bima, ternyata dia masih ada dengan kami. Senin, 16 Juli 2012. Ketika seluruh guru sibuk dengan kegiatan MOS, saya dikejutkan dengan kedatangan sosok wanita muda berjilbab. “Bu M...