Berkeliling menyapa jalan demi jalan kota Surabaya. Berbisik dalam hati kekaguman akan buah pikir ibu Risma. Berebut tempat dedaunan untuk menjadi payung para pengguna jalan. Berlalu lalang di Surabaya tak lagi membosankan.
Aspal panas menguap memeluk tubuhku hingga batik yang kukenakan basah oleh luberan keringat. Pucuk-pucuk rambut hitam tak sempurna ini, tak jarang menetaskan air kelelahan.
Bangunan kokoh karya para menir Belanda menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Surabaya. Tembok kokoh, lingkar jendela khas dan tudung gedung merupakan identitas tersendiri, meski sekarang sudah terhiasi logo-logo besar perusahan swasta maupun kantor pemerintahan.
Kejayaan pembangunan Surabaya saat ini menjadi icon bagi Jawa Timur, "Ibu kota propinsiku benar-benar membanggakan".
Akan tetapi, gumamku itu terbantahkan ketika aku menyusuri wilayah Surabaya Utara. Sunan Ampel dan Tanjung Perak menjadi ciri abadi daerah itu. Kanan kiri penuh tumpukan sampah botol ketika jalan menuju stasiun kota ku sambangi. Tak jauh setelah itu, bangunan kumuh, begitupun rumah, toko dan sarana yang lain membuatku ingin mencabut kenikmatan berada di Surabaya.
Ternyata, Surabaya masih memiliki kawasan kumuh tak sedap dipandang mata.
Senin, 3 September 2012 Senyumanmu Kami Ubah dengan Tangisan Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Upacara bendera rutinpun berjalan lancar dan tertib. Apalagi pemandangan yang sangat harmonis ditunjukkan oleh para guru kami. Setelah lama saya tidak bisa menjumpai para guru lengkap untuk mengikuti upacara bendera hari senin. Mereka membuat saya semakin bersemangat untuk belajar, bersemangat untuk melangkah menuju ke sekolah tercinta. Saya merasakan pagi itu sedikit berbeda dengan pagi sebelumnya. Semangat mentari telah memberikan semangat baru bagi kami semua. Di jam pertama setelah selesainya upacara bendera, kami harus bersiap untuk menerima pelajaran Matematika dari Bu Ellys. Tapi sebelumnya Bu Lidia selaku wali kelas kami harus masuk kelas terlebih dahulu untuk mengecek kehadiran kami. Setelah itu jam sudah menunjukkan pukul 08.10 Wita, waktu bagi Bu Ellys untuk segera masuk ke kelas kami. Setelah melihat Bu Lidia selesai melaksanakan tugasnya, dengan cepat Bu El...
Komentar
Posting Komentar