Langsung ke konten utama

Postingan

Sajak.Sejak.2009.Lalu

Sejak tahun itu aku mengenalnya, sejak itu pula setiap aku hadir ke kota di mana aku kali pertama bertemu dengannya, aku selalu mengikatkan satu tujuan, diantara beberapa tujuanku hadir ke kota itu, yaitu bertemu dengannya. Tetapi, setiap kali aku hadir dia selalu pergi, selalu seperti itu :) Hingga entah berapa kali kehadiranku di kota itu. Bertahun-tahun hanya suara dan rangkaian kata yang menyambung pertemuan itu. Bahkan, masa lalu yang mana, aku pernah merasakan dia selalu hadir di sampingku, sangat dekat meski jarakku dengannya sangat jauh. Tujuan yang terikat dari dulu ternyata masih terikat hingga saat ini, entah..... Sampai masa depan yang mana tujuan itu bisa lepas.

Seribu Nada

Aku sangat paham dengan apa yang kau rasakan, tapi aku benar tidak tahu ternyata kau melihat pemandangan tak mengenakan itu. Maaf. Aku sekuatnya ingin tidak memberimu pemandangan yang seperti itu. Karena aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu yang telah kau dapatkan darinya. Dari itu, tempo hari aku berkata, "sudah nggak waktunya aku berkata." Ya, sudah tidak waktuya memang, meski banyak sekali yang aku ingin katakan agar kau kembali ingat dengan kalimat-kalimat yang pernah kau hamburkan di pikiranku. "Kenapa hampir setiap hari ditidurku kau hadir?" hanya tanda tanya itu yang membayangiku, sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Hanya Tuhan dan Aku yang tahu, mungkin juga Kau. Biarlah aku berbicara dan melihat senyummu merekah dalam kehidupan tak nyata itu, karena aku tidak mungkin melakukannya di kehidupan nyata ini.

To be Continued . . . .

Lampu warna-warni terus memenuhi teropong kehidupan baruku, titik-titik cahaya tak satu pun rela untuk menghindar. Mereka setia menemani sebuah pencarian secercah kebahagiaan, mereka gembira memberi penerangan pada serpihan rasa. Ironis dengan apa yang kualami, miris dengan apa yang telah terjadi. Menengok ke BELAKANG, kesengsaraan hati yang terpampang pada kanvas kehidupanku. Menengok ke SAMPING , kekecewaan orang-orang terkasih tercecer mengotori lukisan perjalananku. Banyak yang menampar bahkan memukul mata pikiran, "jangan buta!!!" Setiap menit, setiap jam, dentungan perhatian mereka menyelimuti hatiku. Hanya sebuah kata yang sebenarnya mereka inginkan, "ketegasan!" Tak ayal, secara tak sadar, "menikam dari belakang," kata-kata itu menerobos masuk ke dalam gendang telingaku. Ternyata, kepuasan sama sekali belum menyapa mereka. Dirasa memukul belumlah cukup, mereka menghentikan nafas kebingunganku, mereka memutilasi keraguanku, melempar ke peka...

Mereka

Pagi nan bercahaya, Semangat semakin membara, mereka, anak-anak bangsa yang tak kalah mempesona. Keterbatasan yang mereka alami tak sedikit pun mengurungkan kakinya menuju sekolah. Guru, sebagai sosok yang mereka elu-elu kan pun, harus mampu menjaga semburat semangat mereka. Orang tua tak lagi peduli akan nasib mereka. Ya, kemana lagi kalau bukan kepada kita, mereka merintih, mereka berharap, berharap perhatian lebih yang mereka peroleh. Karena, Aku yakin, perhatian lebih dan kelembutan, mampu mengubah mereka.

Semalam Bersama Hujan Menuju Kawah Bromo

Hujan malam itu turun tanpa ampun.... Perjalanan yang luar biasa kami telah lalui, diiringi suara geledek yang menggetarkan bola bumi, guyuran air dari hitamnya langit membanjiri jalan yang kami lewati. Dingin terus mencoba menembus jas hujan yang kami kenakan, dingin itu ingin memeluk kulit kami dan mematahkan tulang belulang kami. Lingkaran waktu kami habiskan di jalan, dengan dingin yang mancabik-cabik diri mencoba mengendorkan semangat kami. Laju roda mulai terhambat oleh kali-kali dan selokan-selokan yang meluber menenggelamkan seluruh bagian tubuh jalan. Belum lagi tikungan-tikungan lengkap dengan pekatnya kabut dan menggigilnya udara membuat kami semakin membeku. Tidak ada kata yang terlontar, belum ada senyum yang mengembang, semua masih terbisu oleh bekunya udara yang menerpah tubuh kami. Surabaya – Sidoarjo – Pasuruan – Bromo, hujan terus mengguyur kami. Lelahnya perjalanan sama sekali tak tergambar dari setetes peluh kami, karena peluh kami benar-benar ikut m...

Mencairkan Bekunya Hati

Selamat pagi. . . :) Senyum mengembang menyahut sapaan dari seorang gadis Solo, semangat terpancar dari bola mata melawan cerahnya mentari. Berjalan membelakangi terbitnya cahaya pagi membuat tulang belakangku memberontak tak karuan, seolah ingin melepaskan daging-daging yang menempel seperti benalu. Pori-pori bajuku memberi jalan bagi sinar mentari masuk menyentuh kulitku, menghangatkan dinginya pagi, mencairkan bekunya hati. Membelokkan langkah kaki ke sebuah lorong jalan, pikiran memberontak, keringat mengucur membasahi sekujur tubuh. Kaki berat untuk melangkah lagi, mata enggan untuk terus membuka menyambut cahaya yang masuk untuk menerangi mata kaki. Lisan tak jua mampu bersuara sementara peluh terus mengalir membasahi bulu-bulu mata. Aku tak tahu juga jalan apa yang sekarang ku lalui, yang ku ingat hanyalah sekarang aku sedang berperang dengan kemalasan, berjuang mengembalikan semangat. Kembali berkeliling di gendang telinga sapaan gadis tadi, seperti kerinduan kapada menta...