Langsung ke konten utama

To be Continued . . . .

Lampu warna-warni terus memenuhi teropong kehidupan baruku, titik-titik cahaya tak satu pun rela untuk menghindar. Mereka setia menemani sebuah pencarian secercah kebahagiaan, mereka gembira memberi penerangan pada serpihan rasa. Ironis dengan apa yang kualami, miris dengan apa yang telah terjadi.

Menengok ke BELAKANG, kesengsaraan hati yang terpampang pada kanvas kehidupanku. Menengok ke SAMPING, kekecewaan orang-orang terkasih tercecer mengotori lukisan perjalananku.

Banyak yang menampar bahkan memukul mata pikiran, "jangan buta!!!"
Setiap menit, setiap jam, dentungan perhatian mereka menyelimuti hatiku. Hanya sebuah kata yang sebenarnya mereka inginkan, "ketegasan!"
Tak ayal, secara tak sadar, "menikam dari belakang," kata-kata itu menerobos masuk ke dalam gendang telingaku.

Ternyata, kepuasan sama sekali belum menyapa mereka. Dirasa memukul belumlah cukup, mereka menghentikan nafas kebingunganku, mereka memutilasi keraguanku, melempar ke pekatnya kali dan bermuara di jernihnya samudera.

Aku, Aku sudah cukup merasakan kekecewaan mereka. Aku sudah cukup melenyapkan harapan mereka.

"New Life," dua kata asing ini yang sekarang kudengungkan. Kebahagiaan pasti datang, karena lubang retinaku sangat yakin dengan sinarnya yang sudah menyemburat di lorong DEPAN itu.

Hidup baru membangkitkan semangatku yang sekian lama bertapa di lubang batu penuh kegelapan. Hidup baru melecutkan langkah-langkah ambisiku yang sempat tersendat.

Kan kubahagiakan mereka lagi....

# 20  07 --- 20  13

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anakku (Rita Hala Wulang)

Senin, 3 September 2012 Senyumanmu Kami Ubah dengan Tangisan Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Upacara bendera rutinpun berjalan lancar dan tertib. Apalagi pemandangan yang sangat harmonis ditunjukkan oleh para guru kami. Setelah lama saya tidak bisa menjumpai para guru lengkap untuk mengikuti upacara bendera hari senin. Mereka membuat saya semakin bersemangat untuk belajar, bersemangat untuk melangkah menuju ke sekolah tercinta. Saya merasakan pagi itu sedikit berbeda dengan pagi sebelumnya. Semangat mentari telah memberikan semangat baru bagi kami semua. Di jam pertama setelah selesainya upacara bendera, kami harus bersiap untuk menerima pelajaran Matematika dari Bu Ellys. Tapi sebelumnya Bu Lidia selaku wali kelas kami harus masuk kelas terlebih dahulu untuk mengecek kehadiran kami. Setelah itu jam sudah menunjukkan pukul 08.10 Wita, waktu bagi Bu Ellys untuk segera masuk ke kelas kami. Setelah melihat Bu Lidia selesai melaksanakan tugasnya, dengan cepat Bu El...

Kalian

Hanya udara segarmu yang akan mengantarku, Hanya terik mataharimu yang akan membekas, Hanya bait-bait puisimu yang mengindahkanku, Dan…. Hanya senyumanmu itu yang membalut kenanganku.

Menulis #2

Delapan semester telah ku rampungkan di lapangan Hocky, Softball, Sepakbola, Bolavoli, Bolabasket , Bulu Tangkis, Tenis dan di gedung berlantai tiga jurusan pendidikan olahraga FIK UNESA. Mengenakan baju Toga yang sangat gagah a ku keluar dengan title S-1 di dada ku . Sebuah gelar hasil perjuangan Mak Bapak. A ku pun belum tahu yang namanya menulis, apalagi menulis indah, terakhir yang menjadi kesibukan ku ya, menulis Skripsi, itu pun karena kewajiban...hehehe. Sebuah potongan cerpen di bawah ini semoga bisa menjawab...... Kapan hobiku menulis muncul lagi dan semakin bersemangat...??? Dia yang mampu membuat ku merasa nyaman, dia yang mampu membuat ku merasakan tunas-tunas cinta bersemi , dia yang mampu membuat ku tersenyum. Meskipun tak jarang aku selalu menepis dugaan orang-orang terhadap kedekatan kami, tapi ada rasa senang yang membuncah di balik itu. Tak hanya menimbulkan harap, tapi juga keny ataan. Hari sabtu, ketika terik melegamkan kulitku. Aku terbangun...