Langsung ke konten utama

Postingan

P E N A

Teringat pada kobaran semangat yang pernah melecutkan tinta pena. Dini hari yang menggetarkan memori kenangan. Gemercik lirih terdengar oleh telinga, disertai dengan gelembung-gelembung kecil terlihat oleh mata. Tanpa sentuhan udara pada kulit, pelecut semangat itu menyayat daun-daun kering. Pelecut semangat yang mampu membangunkan dari tempat duduk, Pelecut semangat yang mampu menunjukkan bagaimana cara berdiri, Pelecut semangat yang mampu menuntun ketika mulai belajar untuk berjalan, Pelecut semangat yang terus mampu mengikuti ketika sudah mulai bisa berlari, dan berlari kencang. Pena itu tak henti-henti berlari. Semakin mendengar belaian kenyamanan tutur kata, semakin cepat pena itu berlari. Hadir tepat pada masanya dan berkembang tepat ketika sudah siap. Ambisi, Harapan, Impian menyala semakin terang dengan dilengkapi pelecut semangat yang tak pernah letih. Hari demi hari terlewati dengan suka dan duka. Seperti halusinasi tapi ternyata nyata. Sebuah lembar...

Ngembat

Mendaki jalanan pegunungan dengan disertai gerimis, menghadirkan udara dingin yang menembus tulang-tulang penopang tubuhku. Tengah hari yang terik tidak bisa aku dapatkan di sini. Kendaraan roda empat ataupun roda dua berbondong-bondong mendaki jalanan bersamaku. Mereka bersiap menyambut tahun 2013 malam nanti. Aku mendaki jalan berliku dengan menunggangi kendaraan buntutku. Sedikit mengerang-ngerang setiap mendapati tanjakkan yang tinggi. Tidak seperti mereka, aku mendaki jalanan itu untuk sekadar menghirup udara segar pegunungan dan berhenti di sebuah tempat untuk menyeduh secangkir kopi dan menyantap sebuah jagung bakar. Sebuah angkringan yang terletak di desa Cembor, kecamatan Pacet, kabupaten Mojokerto.  Aku tidak sendiri, aku ditemani seorang wanita yang selalu memegangi pundakku ketika berada dijok belakang sepeda buntutku. Secangkir kopi yang panas mampu menghangatkan tubuh menggigilku setelah ditemani gerimis sepanjang perjalanan. Sebuah jagung bakar manis ...

Kalimat Maaf

Dentungan jantung terdengar begitu menggemah seirama dengan lirihnya dentungan detik jam. 3 x 24 jam berlalu, embun mulai kembali menyapaku, dan aku kembali menyapa mentari, bukan lagi mentari yang menyapaku. Tubuhku melayang-layang lagi, kakiku terseok-seok, badan ceking, tak mampu bersuara, hanya desiran nafas yang keluar dari mulutku. Berlinang gumpalan air mata, menetes, mengalir melintasi tulang pipi. Ketidaksengajaan itu menelusup ke dadamu, hingga menyesakkan helaian nafasmu. Jurang sudah sangat dekat berada di hadapanku, sekali aku menyangkal, jurang tersebut seketika akan melentingkanku. Untaian nada-nada akan selalu menghiasi ketertaluan. Tidak ada yang tahu, karena memang tidak ada yang tahu. Bukalah bibirmu untuk menebar senyuman di sekelilingmu. 8 Januari 2013

Aku Ingin Selalu Mengenangmu

Tiada secerah hariku di Sumba Tiada sebahagia hatiku di Sumba Semua sungguh mempesona Semua penuh dengan cinta Lagi dikerjain para Ibu Guru Rindi 1 Suasana kebahagiaan dengan anak-anak luar biasa, meski ini kali terakhir bersenang-senang bersama Duo 8-18 mengisi lini tengah CANDI FC Atlit-atlitku yang berjuang dalam O2SN SUMBA TIMUR 2012 Sepasang tanganku membuat Yani menjerit...hehehe Keindahan Panen Raya Tanaraing Rindi Berjalan menuju keajaiban bersama "Laskar Pelangi" Mereka selalu membangunkanku Persahabatan penuh kasih sayang Saat pertama kali kami bisa keluar bersama Jalan pagi keliling Blok Tanaraing Awal langkah kaki kami menuju anak-anak bangsa Senyuman yang selalu mengingatkanku Kebersamaan menuju kekeluargaan Mereka sebenarnya mampu ????? Inilah pantai terindah di Sumba Timur Hanya tersisa kami saat libur akhir tahun Akhirnya kami mendapat julukan "Ipin Upin" ...

Puisi Sederhana "Kalian"

Lewat puisi-puisi sederhana "Kalian", kenangan yang kalian ukir di hatiku memaksa diriku terpejam dan terdiam membayangkan wajah-wajah lugu "Kalian" Terima kasih. . . . anak-anakku yang sangat luar biasa. Dari: Adriana Tamo Ama Semangatmu berkobar bagaikan api Tak peduli teriknya mentari Engkau tak pernah merasa jenuh Dalam keadaan yang begitu pahit Tak ada yang dapat ku berikan Sebagai ucapan terima kasih Bukan sehelai baju yang engkau pakai Bukan setangkai bunga yang dapat engkau timang Yang aku punya hanyalah sebaik puisi Yang dapat engkau bawa dan egkau kenang Yang ku punya hanyalah do’a untukmu Semoga tuhan menyertaimu Dari: Ngguna Emu Jadilah kau bunga Selalu ingin mengembang Selalu mekar sepanjang musim Tak peduli musim basah atau kemarau Jadilah kau bunga Yang tumbuh pada setiap hati Yang tegar dalam belukar Tumbuhlah Berkembanglah Di manapun engkau ditaburkan

Kalian

Hanya udara segarmu yang akan mengantarku, Hanya terik mataharimu yang akan membekas, Hanya bait-bait puisimu yang mengindahkanku, Dan…. Hanya senyumanmu itu yang membalut kenanganku.

Kampung Bersejarah

Kampung Raja Dilihat dari Atas Bukit Salah satu kampung adat di kabupaten Sumba Timur yang masih bertahan hingga sekarang. Dibangun diatas gundukan tanah yang berada di tengah-tengah lembah di wilayah desa Praiyawang Rende, kecamatan Rindi. Terdapat beberapa kuburan batu zaman Megalithicum, batu yang sengaja diukir dan diambil dari pegunungansekitar. Kuburan yang khusus untuk Raja dan para bangsawan. Selain kuburan batu, di kampung raja ini juga masih berdiri kokoh beberapa rumah adat asli Sumba Timur. Rumah panggung yang beratapkan dari rumput ilalang. Rumah Adat Sumba Timur Kuburan Batu para Raja